Posted by: endonesiabebas | December 18, 2008

DIMANA TUHAN , MENGAPA TUHAN TAK TERLIHAT?

Pencaria penjelasan dengan akal pikiran yang dihubungkan dengan kejadian yang sudah terjadi

Setiap manusia yang berpikir, pasti dalam hidupnya pernah bertanya di dalam hati kecilnya, tentang keberadaan Tuhan. Dimana Tuhan ? Di ataskah, di bawahkah, di kanan kiri kitakah, di depan belakang kitakah. Atau Tuhan itu di langit ? sehingga kalau berdoa kita selalu menengadah ke atas atau Tuhan di tempat ibadah seperti masjid, gereja, pura, wihara, kelenteng dsb. Kalau sekiranya Tuhan hanya di tempat ibadah, apakah di rumah kita ada Tuhan juga, atau malah tidak ada Tuhan ?

Pikiran itulah yang pernah menggelitik Purba sejak smp untuk berpikir dan mempertanyakan di mana Tuhan dan Mengapa tidak terlihat?. Dalam beragama dan ber Tuhan, pada awalnya Purba hanya ikut – ikutan orang tua Purba. Bapak dan Ibu Purba sholat maka Purba ikut sholat, Bapak dan Ibu Purba bertuhan maka Purba pun juga ikut bertuhan meyembah Allah dengan cara sholat. Purba selalu mengikuti acara pengajian, membaca Al – Quran, ikut dalam acara ceramah di sekolah namun apa yang Purba dengar tidak lah menjawab pertanyaan bathin Purba.

Lain halnya di rumah, Bapak dan Ibu Purba selalu mengingatkan akan kesabaran, “sabar…, sabar…. dan sabar…. Namun kita jangan lupa bekerja keras, karena Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum itu yang tidak merubahnya sendiri dan selain itu, kadar baik dan kadar buruk datangnya dari Tuhan mu, jangan lah saling membenci dan menghina satu sama lain, sebab jika seseorang sedang mengalami keburukan maupun kebaikan semua itu seijin Allah karena dia sedang diuji”. Itulah yang sering Bapak dan Ibu Purba nasehatkan kepada Purba sejak kecil, setiap hari dan mulai Purba ingat sejak smp. Memang Purba akui bahwa Bapak dan Ibu Purba bukanlah seorang yang ahli agama, namun mereka tetap selalu memberikan wejangan – wejangan yang bersifat kebaikan.

Menemukan titik temu
Waktu terus berjalan, hingga Purba belum bisa menentukan dan membuktikan dimana Tuhan, dimana Allah berada? Namun dari setiap kejadian yang terjadi pada diri Purba selalu Purba perhatikan dan Purba ambil maksud dari kejadian itu. Setiap malam sebelum tidur, Purba selalu flash back apa yang telah terjadi pada hari ini. Dan dari kebiasaan itu, Purba menemukan setitik pencerahan, setitik cahaya bak Purba sedang berada didalam kegelapan dan melihat setitik cahaya, dimana dari sekian banyak kejadian dalam hidup Purba, dalam setiap kasus yang Purba alami, Purba mengambil suatu persamaan, suatu titik temu, yang mana titik temu itu itu selalu ada disetiap kejadian itu. Titik temu itu adalah dimana pada saat Purba mengharapkan sesuatu (bukan dalam konteks sedang berdoa), baru terbersit di dalam hati, belum ada satu menit atau belum ada satu jam, keinginan Purba itu langsung terjadi.

Salah satu contohnya adalah, dulu pada saat smp, sma, dan kuliah setiap pulang dan pergi Purba selalu berjalan kaki, sebab karena kondisi ekonomi Bapak Purba yang buruk, kalau sekolah Purba tidak ada uang jajan atau ongkos. Dan dikala Purba sedang haus yang teramat haus, karena perjalanan cukup jauh antara sekolah dan rumah, tanpa diduga – duga Purba selalu mendapatkan minum, apakah itu datangnya karena Purba menemukan uang yang tercecer di jalan, atau Purba ketemu teman, atau Purba di traktir, dan bahkan Purba diberi minum oleh orang yang Purba tidak kenal.

Selain itu, pada saat Purba sedang ketakutan, dimana waktu sma Purba pernah dikejar oleh beberapa orang hanya karena Purba bersekolah di sekolah yang mereka anggap musuh, dan Purba berlari untuk sembunyi. Dikala Purba berlari untuk bersembunyi Purba berharap agar bisa menghindar dan tidak diketahui oleh mereka. Namun dikala Purba berlari Purba terjatuh hingga tersungkur. Dalam pikirian Purba, Purba pasti tertangkap karena jelas Purba terjatuh. Namun apa yang terjadi, gerombolan yang mengejar Purba seakan buta, tidak melihat Purba.

Suatu hari , Purba ingin menelpon untuk mengkonfirmasikan kelanjutan dari beasiswa Purba, Purba sudah berlari dari rumah untuk ke telepon umum dengan membawa uang seratus rupiah dan Purba taro di kantong celana, pada saat Purba berlari tanpa Purba sadari uang logam Purba jatuh karena kantung celana Purba ternyata bolong. Setiba di telpon umum Purba kaget karena uang yang dikantong tidak ada. Dan akhirnya Purba harus memberikan orang lain yang mengantri untuk menelpon, sambil mencari – cari mungkin jatuh disekitar sini, mendadak orang yang Purba persilahkan tadi bicara “mas, saya sudah selesai nelpon, tadi saya masukin koinnya lima ratus, masih ada tiga ratus pake aja sayang kalau hilang.” Duh alhamdulillah bathin Purba berucap, Purba tetap bisa mengkonfirmasi beasisawa Purba.

Dari kasus yang Purba ambil dari berbagai kejadian, Purba bertambah yakin bahwa Tuhan itu ada, Tuhan itu melihat dan maha melihat, Tuhan itu mendengar dan maha mendengar. Karena seperti itu maka Tuhan juga penolong dan maha penolong, pemberi dan maha pemberi. Lantas dari mana Tuhan bisa melihat dua kejadian itu, sehingga Tuhan bisa menolong Purba. Dan awal yang Purba sadari adalah, bahwa kecepatan Tuhan dalam bertindak melebihi dari segalanya, sangat cepat, super cepat dan maha cepat. Sehingga Purba sadari bahwa kecepatan waktu dunia, tidak bisa disamakan dengan kecepatan waktu Tuhan.

Suatu ketika dibulan haji, Purba mengikuti acara proses berhaji yang disiarkan di salah satu stasiun TV. Dimana Purba melihat orang sedang sholat di mekah. Yang Purba pelajari dalam ber sholat adalah menghadap kiblat. Konteks kiblat yang diterangkan oleh guru agama adalah arah dimana Ka’bah berada, karena kita di Indonesia berada di sebelah timur Ka’bah maka arah kita sholat menghadap barat. dan di acara TV tersebut Purba melihat orang sholat dengan saff melingkar mengelilingi Ka’bah. Dari situ Purba menyadari bahwa keberadaan Tuhan tidak dibatasi oleh arah mata angin, barat, timur, utara, selatan dan lainnya. karena kalau kita di wilayah yang berada di posisi barat Ka’bah, maka kalau sholat kita menghadap Timur, dan seterusnya di setiap wilayah. dan bahkan atas maupun bawah, dilangit ataupun di darat. Namun tetap menjadi pertanyaan di mana Tuhan?

Awal Membuka Tafsir Al Qur’an
Suatu hari setelah pulang sekolah dikala siang, Purba dan beberapa temannya diminta membantu guru perpustakaan untuk membersihkan gudang perpustakaan. Sungguh mulia sekali sekelompok murid dikala pulang sekolah masih mau membantu guru, merapihkan gudang perpustakaan, namun sesungguhnya tidaklah demikian, sebab sesungguhnya Purba dan teman – temannya terkena hukuman, karena ketahuan menyobek beberapa lembar buku diperpustakaan. Mereka tertangkap basah menyobek, dengan alasan malas mencatat. Mungkin kalimat yang lebih tepat adalah Purba dan teman – temannya dihukum dengan cara membantu guru perputakaan untuk merapihkan gudang.

Purba dan teman – temannya kali pertama masuk ke gudang perpustakaan, ruangan tersebut memiliki aroma khas yang menyengat, yaitu aroma kertas yang sudah bertumpuk bercampur debu. Purba dan beberapa temannya berusaha membersihkan bagian atas rak yang paling dalam, dengan menggunakan masker anti debu yang berwana putih pudar, entah sudah berapa kali masker tersebut di cuci dan celemek warna biru dongker yang menempel di badan mereka, yang dibagian kiri atasnya terdapat logo perpustakaan, dan dibagian bawah celemek bertulisakan dengan tinta putih “milik perpustakaan”. Mungkin sengaja disablon demikian karena sudah sering hilang dan tidak jelas jejaknya.

Sekelompok anak laki – laki membersihkan gudang, pastinya bisa terbayang apa yang terjadi, yang ada bukannya merapihkan malah bercanda, saling memberikan coretan di muka dengan debu, dan mendadak Purba mendapat stempel telapak tangan dimukanya dengan debu, yang membuat Purba bernafsu membalas, dan tanpa Purba sadari Purba menabrak kardus sehingga terbalik dan berserakanlah isinya. Ternyata hanya tumpukan kertas dan buku yang sudah rusak dan lembab. Karena Purba yang menabrak, maka Purba yang membereskan.

Pada saat Purba merapihkan dan menumpuk kembali, Purba sempat melihat kertas yang tersobek, dan ada tulisan yang berbunyi …. menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat …. Hanya itu yang bisa Purba baca, namun kalimat itu yang mendorong Purba untuk membuka seluruh buku pelajaran agama di perpustakaan. Purba yakin ini adalah sobekan dari buku agama, namun buku yang mana Purba tidak tahu. Purba coba menanyakan ke petugas perpustakaan merekapun juga tidak tahu, alasannya terlalu banyak buku sehingga dia tidak bisa menghafal setiap kalimat di buku. Lalu Purba berniat menanyakan ke guru agama, tapi dalam perjalanan di mengurungkan niatnya, dia teringat kejadian minggu lalu. Cuma bertanya sepatah dua patah kata, malah dia yang kena ceramah agama, sampai dihubung – hubungkan dengan sikap dia yang nakal.

Hingga akhirnya Purba menemukan sebuah buku berwarna hijau di tumpukan buku Bapak di rumah. Purba bingung ini buku apa, tapi ada Al-Qur’an nya dan tulisan bahasa Indonesia. Awalnya Purba membaca tulisan bahasa Indonesia yang berada pada surat Al Fateha , Purba senang sekali dan penuh semangat sebab dia baru menyadari bahwa tulisan bahasa Indonesia itu adalah terjemahan dari tulisan arab Al-Qur’an yang selama ini dia baca.

Purba senang sekali rasanya menemukan buku itu, namun buku itu tebal sekali, Purba bingung harus dimulai dari mana untuk mencari dan memastikan kalau kalimat yang Purba temukan di sobekan kertas tadi berasal dari Al-Qur’an . Namun akhirnya tetap Purba coba untuk mencarinya. Dan disinilah Purba pertama kali membuka yang namanya Al-Qu’ran terjemahan atau kata orang biasa disebut Tafsir. Purba mencoba membacara dari Surat Al – Fatiha, ternyata tidak ada, lalu disambung ke Al Baqoroh, sampai di surat ke dua ini Purba berhenti, karena sangat banyak sekali dan Purba pusing membacanya sebab kalimatnya agak membingungkan. Purba sudah baca sampai Al Baqoroh 159, dan Purba berhenti.

Namun Purba sangat senang, sebab apa yang di nasehatkan oleh Bapak dan Ibu Purba semua itu ada di dalam surat Al Baqoroh 153 – 157 yaitu tentang sabar.
Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

(Al Baqoroh(2): 153 – 157)
Allah akan selalu berada di dekat orang – orang yang sabar, dan Allah akan menguji kita dengan beberapa ujian, namun di dalam Al Quran mengatakan berikanlah kabar gembira bagi orang – orang yang sabar karena mereka itu akan mendapat keberkatan yang sempurna dari Allah. Itulah kesimpulan yang Purba ingat dari surat Al Baqoroh ayat 153 – 157.

Di cap profokator di SMU
Dan dikala Purba di SMU Purba masuk menjadi anggota ROHIS. Di Rohis Purba berusaha menggali semunya tentang agama, dari segala pihak baik yang radikal maupun yang konserfatif. Purba mulai memfokuskan mengikuti, tak’lim dan bedah buku di sekolah, namun karena semuanya ditanyakan dan dipertanyakan akhirnya pola pikir Purba berbeda dengan anak Rohis pada umumnya, dan ada sebagian yang men cap Purba merupakan aliran sekuler.
“Sekurel ??? “ itulah pertanyaan baru yang keluar dari mulut Purba, dengan diiringi dahi yang dikerutkan ke atas serta ekspresi yang bingung.
“Sekurel itu apa sih ? bagus tidak ?” Purba berusaha cari tahu dari teman – temannya, namun karena bagi Purba jawabannya tidak melanggar prinsip dia, serta tidak terlalu penting, dan ditambah lagi karena dia masih punya pertanyaan penting yang belum terjawab, maka dia tidak perduli mau dibilang sekuler, ataupun lainnya Purba tidak peduli.
Selama di SMU, Purba di cap sebagai anggota Rohis yang aneh karena pola pikirnya yang berbeda sendiri, bahkan tanpa Purba sadari banyak siswa yang sependapat dengan pola pikir Purba, sehingga di dalam keanggotaan Rohis menjadi pecah dua, dan terciptalah dua group yaitu Rohis Radikal dan Rohis Konserfativ. Kata Rohis Radikal dan Konserafativ ini muncul dari ucapan banyak orang yang akhirnya menajadi nama kubu.
“Waduh apa-apaan ini?”, Tanya Purba kepada temannya, sebab dia mendapat panggilan ke ruang guru BP.
Memang karena sikap yang tidak mau dikekang oleh adat-adat yang Purba anggap kolot dan menyimpang, Purba sering berkomentar di depan forum. Bahkan Purba pernah membuat statement kalau :
“Kothib sholat jum’at, tidak wajib untuk dibayar, sebab Khotbah itu merupakan bagian dari rukun sholat jum’at !! dan hukumnya haram jika menerima uang untuk melaksanakan rukun sholat. “
Hebohlah disekolah itu gara- gara ulah Purba. Guru-guru agama yang biasa mendapat jatah antrian khotbah jum’at melakukan aksi perlawanan dengan melakukan orasi di depan kelas sebelum pelajaran di mulai. Sedangkan kelompok Rohis Konserfativ berusaha membuat pembicaraan diskusi kecil pada istirahat dan membahas kasus yang sedang hangat di sekolah, agar tidak semakin memanas.

Memang bisa dikatakan Purba ini adalah profokator, sebab gara-gara dia semuanya jadi heboh dan menghangat. Belum kasus khotbah jum’at selesai, Purba sudah membuat gejolak baru di dalam internal Rohis, dia mengusulkan bahwa keuangan organisasi Rohis harus dipegang oleh siswa dalam hal ini semua dana wajib masuk ke rekening organisasi, dan tidak ada ditangan Pembina. Usulan Purba ternyata ditanggapi oleh sebagian besar anak, bahkan Osis pun juga mendukung.

Alasan Purba melontarkan usul tersebut sebab pada rapat pertanggungjawaban kepengurusan sebelumnya, terdapat sisa saldo yang dipegang oleh Pembina yang jumlahnya cukup besar, namun satu hari sebelum rapat dimulai, uang tersebut dikembalikan dalam bentuk satu set tape untuk karokean beserta mik nya. Kejadian ini sempet geger dikalangan guru – guru, namun begitu cepat hilang seperti di peti es kan kasus ini. Itu yang membuat Purba kesal.

Sampai akhirnya Purba di panggil guru BP. Purba pun melangkah dengan pasti, sambil berjalan teman-temannya menyoraki memberi semangat buat Purba, “hidup Purba……” Entah apa yang ada di kepala Purba, hanya ekspresi cengar-cengir saja yang dia tampakkan diwajahnya.

Sesampainya di ruang BP, Purba sedikit kaget, sebab di dalam sudah ada guru BP, Bagian kesiswaan, Pembina Rohis, beberapa Guru agama, dan yang aneh didalam pikiran Purba adalah di ruangan itu ada Pembina KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) yang juga wakil kepala sekolah. Tapi saat itu Purba tidak terlalu peduli, sebab dia sedang memfokuskan pada Pembina Rohis dan para Guru agama yang saat itu sedang kesal oleh ulah nya.

Pada saat Purba duduk, mulailah guru BP berbicara, panjang lebar, dari masalah perpecahan Rohis, Khotbah Jum’at, sampai kasus keuangan Rohis. Purba tidak begeming, bahkan dia tidak bergerak sedikit pun dari tempat duduknya, dia hanya menunduk mendengarkan ucapan para guru. Semua guru yang ada di ruangan itu berusaha menyerang Purba,Guru BP bersifat netral dan menengahi, namun yang bikin Purba senang adalah Pembina KIR, sebab dia selalu meredam serangan para Guru, seakan-akan dia memihak Purba. Satu jam kira- kira Purba diceramahi, namun karena Purba memeliki prinsip “jika ingin menang harus berani mengalah”, maka strategi itu dijalankan oleh dia. Dan akhirnya selsai juga acara di ruang BP, tanpa ada suatu keputusan. Purba sempat lega, sebab dia khawtir di skors karena bikin ulah, namun akhirnya Purba tahu kalau dia pada saat di ruang BP itu di dukung oleh wakil kepala sekolah, karena dinilai memiliki sikap tegas dan kritis. Dan akhirnya Purba ditawarkan untuk masuk menjadi anggota KIR, dan akhirnya dia menjadi ketua KIR.

Sikap kritis Purba ini selama di KIR akhirnya tersalurkan. Purba sengaja mebuat suatu tim, yang beranggotakan enam orang terdiri dari tiga anggota KIR namun juga anggota Rohis, dan 3 anggota KIR yang suka ilmu geologi dan goegrafi. Kelompok ini sengaja dibuat Purba untuk membuat suatu gebrakan KIR dengan menganalisa terbelahnya laut pada jaman nabi Musa dari segi Ilmu pengetahuan yang dikombinasikan dengan ilmu agama. Kejadian ini pun juga sempat menghebohkan sekolah sebab, sedikit ada komentar yang bertentangan dari kelompok anggota Rohis yang konserfatif. Namun Purba tidak peduli. Purba yakin bahwa kejadian di bumi ini pasti ada penjelasannya, dan Purba yakin terbelahnya lautan itu bukan lautnya yang terbelah, namun karena adanya daratan yang muncul karena tekanan endogen dari dalam bumi, sehingga seakan-akan lautan terbelah.

Bukan itu saja, Purba juga mebuat konsep tentang pembangkit listrik tenaga water toren . Biasanya listrik dihasilkan dari tenaga air terjun, namun Purba membuat konsep menjadi lebih sederhana, yaitu dengan perhitungan air yang jatuh dari ketinggin water toren dia bermimpi untuk menggerakkan turbin dan menghasilkan tenaga listri. Namun karena keterbatasan ilmu, Purba berusaha menggandeng anggota KIR dan bahkan anak – anak diluar KIR yang dia anggap cerdas di fisika dan matematika untuk menghitung rasio – rasi yang dibutuhkan jika ingin menciptakan listrik.
Begitulah Purba yang merupakan profokator di sekolahnya. Dari sekian ide yang cemerlang hanya satu yang dia bisa selesaikan yaitu penannaman hidroponik, Purba membuat tim untuk membuat percobaan menanam tomat dengan media busa, dan ini berhasil dia lakukan, namun tidak dilakukan di sekolah tapi dirumah, sebab kalau disekolah pasti akan hancur.

Setelah berkecimpung di dunia Rohis, sampai akhirnya Purba menemukan jawaban dari tulisan yang Purba temukan tersebut yaitu
Surat Qaf, surat ke 50, ayat 16 yang berbunyi
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya”
Jadi terjawab sudah apa yang telah terjadi sebelumnya, bahwa Allah maha mendengar keinginan kita walau baru terbersit di dalam hati. Namun di dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa Allah dekat dan lebih dekat dari urat leher kita, namun jika Allah dekat kenapa tidak terlihat ? Akhirnya pertanyaan Purba terus berlanjut. Purba meyakini, agama itu adalah akal, tidak ada agama buat orang yang tak berakal, dan Purba yakin semua itu akan dapat dijelaskan dengan akal pikiran kita.

Allah itu dekat
Hingga akhirnya dalam pelajaran sejarah sekolah Purba menemukan kisah, tetang ilmuan yang bernama Galileo yang dihukum mati karena menyatakan bumi ini bulat. Dari kisah itu terjadi pertarungan pendapat antara Galileo dengan pihak yang berkuasa pada saat itu yang juga menyatakan bahwa bumi itu datar. Namun sesungguhnya Galileo sendiri menyatakan bumi itu bulat hanya berdasarkan percoban yang dia lakukan sendiri lalu dia menyimpulan. Dan dia sendiri sesungguhnya belum pernah melihat bentuk bumi secara seutuhnya.

Purba melihat kisah tersebut tidak dari sisi perbedaan dua belah pihak siapa yang benar ataupun siapa yang salah, namun pada saat itu Purba lebih focus pada sebuah pertanyaan :

“Kenapa seorang Galileo harus berusaha membuktikan bahwa bumi itu bulat dengan melakukan berbagai percobaan yang memakan waktu, padahal dia sendiri saat itu berdiri dan berpijak di bumi ?”.

“Kenapa dia sampai tidak tahu kalau bumi itu bulat padahal dia lahir di bumi, hidup di bumi dan tumbuh di bumi, dan dapat dikatakan bumi itu dekat dengan dia, bahkan sangat dekat bisa dibilang rapet atau nempel ?”

“Apakah Gaelileo tidak bisa melihat bumi, yang sangat dekat dengan dia ?

Lantas Purba berpikir, jangan – jangan sebelum manusia itu tahu akan bumi, sesungguhnya manusia itu tidak tahu kalau manusia itu berada di bumi.

Dari situ Purba menyadari, bahwa ketidaktahuan manusia tentang bentuk bumi, apakah bulat, kotak atau datar, disebabkan karena bumi yang dipijak oleh manusia ini, memiliki ukuran yang sangat besar jika dibandingkan dengan ukuran manusia itu sendiri.

Purba mengibaratkan antara semut dan gajah. Andaikan semut bisa bicara, lalu kita melihat semut yang berada atau sedang menempel di tubuh gajah, dan lalu kita bertanya :

“Wahai semut, pernahkah engkau melihat gajah?”
pasti sang semut akan menajwab tidak, padahal semut itu berada di tubuh gajah. Kalupun kita beri tahu, kalau semut sedang berada di gajah lalu kita bertanya lagi :
“wahai semut, tahukah kamu bentuk gajah yang saat ini engkau pijak ?”
Pasti semut akan sulit mendeskripsikan bentuk gajah tersebut. Kalaupun bisa mendiskripsikan bentuk gajah, pasti akan membutuhkan waktu, seperti halnya Galileo yang membuktikan bentuk bumi bahwa bumi itu bulat.

Di lain sisi, Purba sendiri pun menyadari kalau sebuah buku dengan jarak satu meter di depan kita, kita bisa mendeskripsikan bentuk buku itu, warna buku itu, dan bahkan ketebalannya bisa kita lihat. Namun jika buku itu kita rapatkan serapat – rapatnya ke wajah kita, akan terlihatkah buku tersebut ? pastinya tidak.

Begitulah dengan Tuhan. Jadi surat Qaff ayat 16 tersebut memang menjelaskan bahwa Tuhan itu dekat, dan gambaranya adalah lebih dekat dengan urat leher kita. Jadi dapat Purba simpulkan bahwa ketidak mampuan manusia khususnya Purba dalam melihat Allah dengan mata jika dijelaskan dengan akal pikiran adalah bahwasanya karena Allah Maha Besar, Allah tidak berdimensi, Allah tidak mengenal ruang dan waktu dan Allah sangat dekat dengan kita bahkan lebih dekat dari urat leher kita. Kita tahu urat leher itu saja sudah sangat dekat dengan kita, bahkan urat leher itu berada di dalam tubuh kita, tapi dalam surat Qaff ayat 16 itu menyatakan bahwa Tuhan lebih dekat lagi. Lantas apakah Tuhan ada didalam setiap diri manusia ???

Satu pertanyaan selesai, satu pertanyaan lagi muncul, apakah Allah berada di dalam diri kita ? kembali lagi Purba berusaha mencari penjelasan dengan berdasarkan akal pikiran. Jika kita bilang tidak mungkin, jelas tidak mungkin, sebab Allah adalah Tuhan, manusia bukan Tuhan, Allah Maha suci, manusia penuh dengan noda dan dosa, manusia lemah sedangkan Allah Maha Kuat. Namun kenapa di dalam Al Qur’an terdapat kalimat Allah dekat dan lebih dekat dari pada urat leher kita.
Untuk menjawa semua itu perlu waktu yang lama atau bisa jadi hanya perlu sekian detik karena ukuran waktu Tuhan dalam memberikan ilmu tidak bisa dibandingkan dengan ukuran waktu kita.

Namun sedikit Purba beri gambaran. :

• Pernahkah kita bercermin ?
• Pada saat kita bercermin, apakah kita melihat diri kita di cermin ? pastinya ya.
• Namun apakah memang diri kita masuk dan pindah ke dalam cermin ?

Segala sesuatu yang bersifat benar sesungguhnya datangnya dari Tuhan, yang memberikan pelajaran kepada manusia melalui segala ciptaan Nya, melalui segala proses kejadian yang ada.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: