Posted by: endonesiabebas | April 30, 2009

Siswa SMA Ubah Urine Manusia Jadi Pestisida

Tak selamanya siswa SMA itu identik dengan tawuran ataupun dunia kenakalan remaja. Di Palembang, siswa SMAN 6 ternyata telah berhasil mengubah urine (air seni) menjadi pestisida. Kalau bisa dimanfaatkan, penemuan ini tentu saja merupakan langkah awal yang sangat penting bagi dunia pertanian. Namun, pihak sekolah kini masih bingung mengenai pengamanan temuan mereka itu dari aksi pembajakan.

Berawal dari sering bermasalahnya water closed (WC) di sekolah yang beralamat di Jalan Sersan Sani Palembang, enam siswa XI dan XII punya pemikiran bagaimana persoalan bau pesing itu bisa dituntaskan, bahkan bila perlu dapat memberikan manfaat.

“Maksudnya dari limbah yang awalnya bermasalah, anak-anak mencoba mencari solusi yang tidak sekadar menuntaskan persoalan, tetapi juga memberikan manfaat lebih,” ujar Elvi Martalinda, seorang guru Bahasa Indonesia yang menjadi pembimbing para murid itu.

Keenam siswa yang tergabung dalam tim peneliti itu adalah Adisaputra (siswa kelas XI IPA 3), Eko Wahyudi (kelas XI IPA 2), Taufiq Hidayah (kelas XI IPA 4), Desi Oktarina (kelas XII IPA 10), Mira Zulyati Ahfa (XI IPA 20), dan Titan Pratama (murid kelas XII IPA2).

Pada awalnya, mereka menghadapi air seni yang berwarna seperti air teh itu merupakan tantangan sendiri. Selain urine yang berbau pesing, tim peneliti juga tak bisa melepaskan bayangan bagaimana ketika orang-orang membuang air seninya. Tetapi berkat ketekunan dan keyakinan bahwa yang dilakukan itu akan bermanfaat bagi banyak orang, terutama petani, pekerjaan mereka di laboratorium itu pun berlanjut.

Mudah dan Murah

Proses pengolahan air seni sebenarnya tidak rumit. Bahan-bahan yang dibutuhkan pun tidak sukar dicari. Menurut Elvi Martalinda, bahan utama adalah air seni. Dalam percobaan yang dilakukan, untuk 100 liter air seni, dibutuhkan 1 kg rempah-rempah. Nantinya akan menghasilkan 100 liter pestisida.

Kalau ditotal, biaya yang diperlukan hanya sekitar Rp 5.000 untuk membeli rempah-rempah. Sementara itu, air seninya masih gratis. Ini bisa dibandingkan dengan pestisida pabrikan yang dijual di pasaran seharga Rp 10.000/liter.

Rempah-rempah yang dibutuhkan adalah jengkol, kunyit, petai, dan brotowali masing-masing sebanyak 250 gram. Bahan lainnya, bawang merah dan cabai rawit, masing-masing 750 gram.

Selintas, saat anak-anak mencari bahan-bahan itu di pasar, dikira mereka akan praktik membuat masakan khas daerah., seperti pindang atau rendang. Pedagang sempat bertanya ketika siswa yang masih mengenakan seragam sekolah membeli bahan-bahan tersebut.

“Untuk praktik masak apa, Nak? Memang aneh, sekarang, masak anak laki-laki disuruh masak,” ujar pedagang itu seperti ditirukan Elvi, sang guru pembimbing.
Alat-alat yang diperlukan juga gampang dicari, yakni wadah penampung urine yang bisa berupa bak atau drum, penutup wadah penampung, pisau, penghalus rempah-rempah, timbangan, kompor, panci, sarung tangan, masker, dan kaca pembesar.

Selain bahan dan alat-alatnya mudah dicari, pengolahan urine menjadi pestisida ini juga sangat mudah. Yang pertama dilakukan adalah menyiapkan bahan dan alat-alat yang diperlukan. Setelah itu, semua rempah-rempah (kunyit, pete, brotowali dan jengkol) direndam selama 24 jam, kemudian direbus.

Langkah berikutnya, urine dimasukkan ke dalam wadah penampung dan dicampur dengan rempah-rempah yang telah direbus. Proses ini dilanjutkan dengan tahap fermentasi selama 2-3 minggu.

Setelah fermentasi selesai, bawang merah dan cabai rawit dimasukkan ke dalam wadah penampung. Wadah itu kemudian ditutup dan dibiarkan selama 3-4 hari. Urine tadi dipastikan siap digunakan sebagai pestisida, tak kalah dengan pestisida buatan pabrik. Untuk penggunaannya, setiap 1 liter pestisida organik ini dicampur dengan 10 liter air.

Pemilihan Bahan

Pemilihan bahan, menurut Elvi, didasarkan kandungan yang terdapat dalam bahan-bahan itu. Jengkol (Pithecellobiium jiringa) dan petai (Parkia speciosa), misalnya, dipilih karena mempunyai kandungan asam amino dan sulfur yang berfungsi membunuh dan menghambat pertumbuhan hama tanaman.

Kunyit (Curcuma longa) mengandung kurkinoid yang terdiri atas polifenol, kurkumin, desmetoksikumin, bisdesmetoksikurkum in, minyak asiri/volatil oil, lemak, larbohidrat, protein, pati, vitamin C, garam-garam mineral (zat besi, posfor, dan kalsium). Polifenol pada kunyit merupakan bahan antimikroba ataupun hama tanaman.

Brotowali (Tinospora crispa) mempunyai kandungan kimia, yakni pikroretin, alkaloid, damar lunak, pati, dan glikosida. Zat pahit pikroretin berguna untuk membunuh hama tanaman. Bawang merah (Alium ascalonicum) mengandung minyak atsiri, sikloaliin, metilanilin, dihidroaliin, flavonglikosida, kuersetin, saponin, peptida, fitohormon, vitamin dan zat pati.

Minyak atsiri mempunyai susunan serat yang mempengaruhi sistem saraf hama, juga memberikan efek panas, serta rasa dan aroma yang tajam. Cabbai rawit, kandungan kimianya kapsaisin, karotenoid, alkaloid asiri, resin, minyak, dan vitamin (A dan C). Kapsaisin memberikan rasa pedas dan panas pada cabai, serta kapsisidin berkhasiat sebagai antibiotik.

Dari hasil uji coba, memang terbukti pestisida olahan dari air seni ini memiliki keuntungan dibanding yang anorganik. “Paling tidak ada lima keuntungan, yang pertama lebih aman dan tidak berbahaya bagi manusia karena tidak mengandung racun. Pemakaian dalam dosis tinggi tidak merusak struktur tanah dan mencemari lingkungan. Dan, tak kalah dengan pestisida pabrik karena memiliki perlindungan pada tanaman yang sama kuatnya terhadap serangan hama tanaman,” kata Elvi.

Selain itu, dua keuntungan lainnya ialah dapat menyuburkan tanah karena nantinya akan diuraikan mikroorganisme menjadi pupuk cair yang berguna bagi kesuburan tanah. Dan terakhir, urine manusia lebih baik dibandingkan dengan urine sapi. Hal ini karena manusia umumnya banyak mengkonsumsi bahan-bahan makanan yang mengandung bahan kimia.

Paling tidak, dengan hasil penelitian awal ini dapat diketahui bahwa urine manusia itu bukanlah limbah yang harus menjadi biang masalah. Bukan tidak mungkin, nanti urine manusia akan menjadi barang berharga. Tidak lagi kita membayar kalau buang air kecil di toilet umum, tapi justru pengelola toilet umumlah yang mestinya membayar atas urine yang kita “kucurkan” itu.

Ditulis oleh: KuCing MiaW pada Januari 22, 2008
Sumber: http://www.sinarhar apan.co.id/ berita/0801/ 19/sh04.html


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: